67 Tahun KH Said Aqil Siradj

0
510

Oleh : Anggia Erma Rini*

Muhammad bin Idris bin Syafi’ lahir tahun 150 H, wafat tahun 204 H. Umurnya 54 tahun. Masih tua saya, 57 tahun. Imam Syafi’i umurnya pendek tapi lebar. KH Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur, wafat, umurnya 39 tahun. Sudah jadi Menteri Agama itu. Imam Nawawi 45 tahun. Imam Ghozali 55 tahun. Itu pendek tapi lebar. Syukur-syukur panjang dan lebar.

Itu salah satu cuplikan Prof Dr KH Said Aqil Siradj dalam sebuah kesempatan mengisi pengajian di Bondowoso, 10 tahun yang lalu. Teladan kealiman para ulama dulu sering sekali disampaikan Kiai Said dalam berbagai pengajian. Kiai Said hendak menegaskan: sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan kemanfaatan bagi sesamanya.

Di usia beliau yang menginjak 67 tahun sekarang, tentu telah sangat banyak teladan, manfaat, peran, dan nasehat-nasehatnya untuk umat dan masyarakat luas dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.

Cukup banyak kelebihan, keistimewaan, dan keunggulan-keunggulan Kiai Said yang telah diakui berbagai kalangan, baik secara nasional maupun internasional. Selain daya ingat beliau yang sangat kuat, Kiai Said tidak hanya menguasai bahasa, metodologi, berbagai ilmu alat atau literatur berlimpah, tapi juga punya perspektif yang luas. Karakter beliau sangat kokoh. Prinsip perjuangan keumatan dan kebangsaannya sangat tegas, dan tidak dapat diganggu-gugat dengan badai apapun juga. Manhaj berpikir para pendiri Nahdlatul Ulama dan para kiai pesantren, selalu dipegang teguh dan ditanamkan turun-temurun pada generasi saat ini.

Saya sangat bersyukur dapat menjadi salah satu murid yang mendapatkan banyak keberkahan dan kesempatan secara langsung untuk berdiskusi serta mendapatkan nasehat langsung dari Kiai Said. Terutama, dalam konteks tasawuf yang menjadi kepakaran beliau. Saya masih ingat betul, Kiai Said sering menyampaikan bahwa semua sifat, bentuk, dan pola manusia di bumi ini adalah manifestasi sifat Allah. Sebagai hamba Allah, seyogianya tidak perlu risau berlebihan jika ada hal yang berbeda dengan kita. Sejatinya semua itu hanya butuh didudukletakkan secara proporsional. Semuanya akan kembali kepada Allah ‘azza wa jalla.

Menurut Buya, panggilan kami kepada beliau, manusia tidak perlu sombong kalau dipuji, dan tidak perlu down serta rendah diri jika sedang dihina orang. Selain itu, beliau sering menasehatkan agar tidak selalu berharap dan meminta semua orang senang dengan kehadiran dan keberadaan kita. Tidak semua orang dalam lingkungan keseharian kita akan senang dengan kita. Jadi, apapun pandangan, persepsi, dan perlakuan orang lain terhadap kita, selayaknya disikapi dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu risau dan kuatir berlebihan dengan apa yang terjadi di luar diri dan kemampuan kita sebagai makhluk.

Nasehat dan pandangan itu, harus diakui benar-benar menjadi landasan penting dalam hidup dan keseharian kita semua, terutama saya sendiri yang saat ini sedang mendapat amanah memimpin Fatayat Nahdlatul Ulama. Nasehat beliau pasti disarikan dari kedalaman ilmu tasawuf yang telah dipelajari, dihayati, diterapkan, diamalkan selama puluhan tahun. Kita tahu disertasi beliau di bidang tasawuf dari Ummul Quro University, Mekkah, adalah salah satu masterpiece terbaik di dunia keilmuan.

Di tengah maraknya pendakwah milenial masa kini yang bekal ilmu agamanya pas-pasan, hemat saya seyogianya perlu banyak belajar pada beliau. Kiai Said sering bercerita saat zaman Imam Syafi’i, ada seorang Gubernur Asia Tengah bernama Abdurrahman Al-Mahdi, mengirim surat pada Imam Syafi’i. Dalam suratnya, sang gubernur mengatakan ingin memahami Islam secara benar, karena setelah membaca Alquran dan Hadits, belum juga mendapatkan pemahaman yang komplit. Imam Syafi’i pun memanggil muridnya, Robi’ bin Sulaiman Al-Murodi, diminta menuliskan surat untuk menjawab pertanyaan gubernur. Imam Syafi’i mendikte, Robi’ menulis. Uktub Ar-Risalah. Akhirnya surat tersebut berjumlah 300 halaman. Itulah Kitab Ar-Risalah, yang menjadi awal mula adanya ilmu Ushulul Fiqh.

Apa isinya? Ringkasnya, jika ingin paham Islam, carilah bayan Ilahi, penjelasan dari Allah, yakni Alquran. Tapi harus diketahui bahwa ayat Alquran tidak sama. Ada muhkamah, mutasyabihah, muthlaq, muqoyyad, ‘aam, khos, dilalah haqiqiyah, dilalah majaz, nashih, mansukh. Itu semua diterangkan Imam Syafi’i dalam suratnya. Jika telah mencari dalam Alquran dan tidak ditemukan, maka pindah ke bayan Nabawi, penjelasan Nabi SAW berupa Hadits. Tapi juga harus diketahui bahwa Hadits tidak sama. Ada mutawatir, masyhur, ‘aziz. Di dalam ketiganya masih ada empat tingkatan lagi.

Jika di Hadits pun masih belum ditemukan, gunakan bayan ‘aqli. Menggunakan akal. Jika akal dikumpulkan, menghasilkan sebuah hukum bernama Ijma’. Konsensus. Jika akal sendiri-sendiri, tidak melalui kumpulan atau diskusi bersama, mengeluarkan hukum dan itu benar serta dapat diterima, metode ini bernama qiyas. Analogi. Qiyas pun bermacam-macam: aulawi, jadawi, burhani, tamtsili, istiqro’i, iqna’i, syi’ri, khitobi. Adanya ijma’ dan qiyas melahirkan ilmu fiqh, produk yang dihasilkan dari akal para ulama.

Contoh, di Alquran berkali-kali disebutkan aqimush sholah, namun berapa kali sholat, apa saja namanya, kapan waktunya, berapa rokaat, tidak ada di Alquran. Yang ada di Hadits: dhuhur, asar, magrib, isya, dan subuh, beserta jumlah rokaatnya. Namun praktik syarat dan rukun sholat tidak ada di Hadits. Adanya di fiqh karangan ulama.

Penjelasan demikian tentu sangat penting dipahami oleh pendakwah masa kini. Bagi santri, hal ini pasti diajarkan dan dapat dimaklumi. Namun seiring dengan perkembangan teknologi informasi, digital, dan media sosial, pemahaman beragama tentu menjadi tantangan tersendiri generasi masa kini. Inilah yang selalu ditekankan Kiai Said agar generasi muda Nahdlatul Ulama dan para santri dapat memadukan komprehensivitas ilmu agama dengan kemajuan teknologi. Tidak mudah, dan menjadi tantangan serta tugas bersama.

Sebagaimana diakui oleh KH Baha’uddin Nur Salim atau Gus Baha’, serta diakui Buya sendiri, kejeniusan beliau adalah berkat doa dan nasi berkat hasil kondangan dan tahlil yang menjadi tradisi amaliyah Nahdlatul Ulama dan sebagian besar masyarakat nusantara.

Kejeniusan Kiai Said sudah amat langka di tengah pragmatisme zaman dan globalisasi yang terus merangsek ke dalam setiap sendi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, mari terus mendoakan beliau agar selalu diberikan kesehatan yang prima, keberkahan, kemuliaan, dan kemanfaatan untuk agama, bangsa, dan masyarakat dunia.

Selamat ulang tahun Buya. Teruslah menjadi lampu penerang dalam perjalanan kami mengarungi samudera kehidupan.

* Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here